Cerita dewasa Ritual Nikmat

Cerita dewasa Ritual Nikmatby masbroon.Cerita dewasa Ritual NikmatSebelumnya perkenalkan nama saya. Nama saya Wawan (Samaran), saya sekarang berprofesi sebagai seorang konsultan di Kota S. Bagi para pembaca yang memerlukan jasa konsultasi penulisan ilmiah (skripsi/thesis) bisa kontak e- mail saya, pasti akan saya bantu sampai selesai. Okay.. saya akan memulai menceritakan pengalaman saya waktu masih kuliah dahulu. Hari itu adalah malam JumEat Pon.. […]
cerita dewasa

cerita dewasa

Sebelumnya perkenalkan nama
saya. Nama saya Wawan
(Samaran), saya sekarang
berprofesi sebagai seorang
konsultan di Kota S. Bagi para
pembaca yang memerlukan jasa
konsultasi penulisan ilmiah
(skripsi/thesis) bisa kontak e-
mail saya, pasti akan saya
bantu sampai selesai. Okay..
saya akan memulai
menceritakan pengalaman saya
waktu masih kuliah dahulu.
Hari itu adalah malam JumEat
Pon.. kira-kira 7 tahun yang
lalu. Hari itulah awal yang
merubah kehidupanku, dari
seorang mahasiswa yang lurus-
lurus saja.. pokoknya serba
lurus deh! Apalagi kalau si kecil
lagi tegang.. wah lurus sekali!
Ha..ha..ha..Foto Sexy ABG
Waktu itu aku masih kuliah di
satu-satunya PTN yang ada di
kota S. Sebagai seorang anak
rantau aku kost di belakang
kampus yang cukup jauh dari
keramaian. Pertimbanganku
untuk memilih kost di tempat
itu adalah di samping harganya
murah, aku juga berharap
dapat menghindari godaan
keramaian yang ditawarkan
kota S itu. Maklum misiku ke
kota S ini adalah untuk
menimba ilmu demi masa depan.
Berkali-kali orang tuaku
menyuruhku agar hidup
prihatin.. karena mereka pun
harus hidup prihatin demi
menyekolahkanku.
Dengan memilih tempat itu
rasanya aku sudah berusaha
memenuhi permintaan orang
tuaku, yaitu agar hidup
prihatin. Namun ternyata nasib
membawaku lain dan melenceng
dari misi semula ini.
Sudah dua tahun aku kost di
daerah itu, sehingga aku sudah
kenal baik dengan semua
masyarakat penghuni kampung
itu. Aku sudah dianggap sebagai
warga karena kesupelanku
dalam bergaul. Nah dari
kesupelanku itulah aku sudah
terbiasa bercanda dengan
setiap penduduk dari anak kecil
hingga nenek-nenek.
Suatu hari pada saat liburan
semester, aku tinggal di tempat
kost sendiri karena memang
aku tidak pulang maklum aku
aktif di kegiatan kampus. Waktu
itu sedang musim kemarau
sehingga banyak sumur
penduduk yang kering, hanya
sumur di tempat kost ku itulah
yang masih cukup banyak
airnya sehingga banyak
tetangga yang ikut minta air
dan bahkan ikut mandi di kost-
ku. Dan diantara mereka ada
satu tetanggaku yang waktu
itu umurnya mungkin hanya
terpaut 7 atau 8 tahun di
atasku, namanya Mbak Narsih
(samaran). Perawakannya
sedang tidak begitu tinggi
(tingginya sekitar 158 – 160
Cm), tetapi bodynya tidak kalah
dengan pesenam aerobik deh.
Kulitnya sawo matang khas
wanita Jawa dan wajahnya
manis sekali, terutama pada
saat tersenyum.. aduh makk!
Dia sudah punya suami dan dua
orang anak yang masih kecil
yang pada saat itu umurnya
baru 4 dan 2 tahunan. Dia
berjualan barang-barang
kelontong di dekat kost-ku. Nah
suatu hari.. seperti biasa pagi
pagi sekali Mbak Narsih ketok-
ketok pintu tempat kost
ku..biasa mau ikutan ambil air
dan sekaligus mandi.
“Dik.. Dik.. cepet tolong bukain
pintunya!” dia berteriak agak
tak sabaran.
“Iya bentar Mbak..” jawabku
sambil setengah mengantuk.
“Kok lama banget to Dik..”
suaranya terdengar tak sabar.
“Ada apa sih Mbak kok nggak
sabar sekali?” tanyaku saat
kubuka pintu untuknya.
Wajahnya nampak meringis
menahan sesuatu. Rupanya dia
sudah mulas dan hendak buang
hajat dari tadi.
“Anu Dik.. aku sakit perut nih”
Katanya agak malu.
Begitu pintu terbuka ia
langsung lari terbirit-birit
masuk KM dan membanting
pintu. Rupanya sang beban
sudah hampir keluar.. pikirku.
“Sorry ya Dik.. tadi Mbak
nggedor-nggedor”, katanya.
“Habis perut Mbak udah mulas
dan di rumah nggak ada air.. itu
lho bapaknya anak-anak
semalam enggak pulang jadi
Mbak belum sempat ngisi air di
rumah.. maafin Mbak ya”.
“Ah enggak apa-apa kok Mbak,
saya malah harus berterima
kasih udah dibangunin sama
Mbak.”
Sejak itu hubunganku dengan
Mbak Narsih jadi tambah akrab.
Hingga pada suatu siang, aku
ingat hari Kamis, Mbak Narsih
datang ke tempat kostku. Siang
itu ia kelihatan manis sekali
dengan memakai baju kaos
lengan panjang warna krem
ketat yang mencetak tubuhnya.
“Eh Dik Wawan.. hari ini ada
acara enggak?” tanyanya
begitu kutemui di teras depan.
“Mm.. kayaknya enggak Mbak..
memang ada apa Mbak?”
tanyaku agak penasaran.
“Anu Dik.. kalau tidak keberatan
nanti adik Mbak ajak pergi ke
Gml mencari bapaknya anak-
anak, Dik Wawan enggak
keberatan kan?”
“Lho memangnya Mas Gun
disana di rumah siapa Mbak?”
tanyaku semakin penasaran.
“Anu Dik.. katanya orang-orang
Mas Gun sudah punya istri
simpanan di sana.. jadi Mbak
mau melabrak.. tapi Mbak nggak
berani sendirian.. jadi Mbak
minta tolong Dik Wawan
nganter Mbak ke sana”.
“Baiklah Mbak.. tapi saya
enggak mau ikut campur
dengan urusan Mbak lho”
kataku menyanggupi
permintaannya.
Sorenya kami berdua dengan
sepeda motor milik Mbak Narsih
berboncengan kearah Gml, + 27
KM sebelah utara kota S arah
ke Pwd. Mbak Narsih membawa
sebuah tas yang cukup besar.
Aku jadi curiga, tetapi tetap
diam saja.. pokoknya wait and
see lah prinsipku. Kami tak
banyak bicara saat dalam
perjalanan. Hingga setelah
sampai ke Gml aku baru
bertanya letak rumahnya.
“Oh.. itu.. itu masih terus ke
utara Dik..” jawabnya agak
tergagap.
Kecurigaanku makin mendalam
tetapi tetap diam saja sambil
kuikuti permainannya.
“IEll follow the game” begitu
pikirku, toh tidak ada ruginya
dengan wanita yang cukup
menarik ini.
Kami terus ke utara hingga
sampai ke tempat dimana
terdapat gerbang bertuliskan
“Obyek Wisata Gn Kmks”.
“Lho kok ke sini to Mbak.. apa
enggak kebablasan?” Tanyaku
agak bingung.
“Anu.. anu sebenarnya Mbak
enggak mencari Mas Gun kok
Dik.. tapi Mbak mau ziarah ke
sini..” Jawabnya agak khawatir
kalau aku marah.
Aku kasihan juga melihatnya
saat itu yang begitu ketakutan.
Aku Cuma menghela napas.. tapi
tidak ada ruginya kok bagiku.
Toh Mbak Narsih orangnya
cukup manis dan menarik jadi
berlama-lama berdekatan
dengannya juga tidak rugi
pikirku menghibur diri.
Sigkat cerita aku dan Mbak
Narsih mengikuti ritual yang
harus dilakukan di sana.
Ternyata bukan hanya kami
berdua yang ada di sana.
Ratusan bahkan mungkin ribuan
orang datang ke sana sore itu.
Semuanya mempunyai tujuan
yang sama “Berziarah” (atau
berzinah barangkali lebih
tepatnya). Soalnya yang aku
dengar kalau berziarah ke sana
untuk mencari berkah harus
berpasangan yang bukan
suami-istri dan harus “Tidur”
bersama di sekitar cungkup
(makam) yang ada di sana.
(Mungkin ini ritual mencari
kekayaan yang paling nikmat di
dunia.. he.. he.. he)!
Setelah mengikuti berbagai
ritual dan prosesi, selesailah
sudah acara mohon berkah.
Sekarang tinggal EfinishingE-nya,
yaitu tidur bersama! Aku sendiri
menjadi panas dingin
membayangkan aku harus tidur
dengan seorang wanita! Gila.. ini
benar-benar pengalaman
pertama bagiku. Seumur umur
belum pernah berdekatan
dengan wanita.. apalagi harus
tidur bersama! Dan katanya
harus 7 kali malam JumEat
berturut-turut pula! Gila!
Benar-benar tur gila.. asyiik!
“Eh Dik Wawan sudah punya
pacar belum?” tanya Mbak
Narsih memecah kesunyian.
“Eh.. mm. anu.. bbel.. belum
Mbak” jawabku agak tergagap
soalnya lagi ngelamun yang lain
lagian pikiranku sedang bingung.
Mbak Narsih mungkin tahu apa
yang kurasakan jadi dia Cuma
diam saja dan menggandengku
mencari tempat untuk
menggelar tikar (Rupanya Mbak
Narsih sudah mempersiapkan
segalanya dari rumahnya..
sontoloyo makiku dalam hati,
tapi aku juga senang juga
membayangkan mau tidur
dengan wanita semanis Mbak
Narsih ini).
Rupanya mencari tempat yang
“Sesuai” (dalam artian sepi dan
aduhai) di sekitar cungkup pada
malam itu susah juga. Aku yang
baru kali itu mengunjungi Gn
Kmks takjub sekali dengan
pemandangan yang kulihat
disana. Bukan keindahan
alamnya yang kukagumi, tetapi
begitu banyaknya pasangan
yang memenuhi lokasi sekitar
cungkup bak ikan bandeng
dijajar-jajar. Gilanya semua
mungkin bukan pasangan suami-
istri yang sah (Kalau boleh
kukatakan ini namanya
“Perzinahan masal” bukannya
“Perziarahan masal”). Cukup
lama kami mencari tempat
untuk bermalam di tempat
terbuka. Rupanya malam JumEat
Pon ini adalah hari “Raya”-nya
Gn Kmks. Ramainya mungkin
malah melebihi keramaian di
Kota S. Dan semua pasangan itu
rela “Tidur” bersama di tempat
terbuka berjajar-jajar tanpa
sekat pelindung yang
membatasi privasi dengan
pasangan lain di sebelahnya.
Akhirnya setelah cukup lama
mondar-mandir melewati jalan
setapak nan gelap dan di
kanan-kirinya bergelimpangan
pasangan yang sedang
melakukan “Laku” tidur
bersama, kami menemukan
tempat yang kami anggap
EsesuaiE bagi kami.
“Disini saja Dik Wawan..
tempatnya masih longgar” kata
Mbak Narsih sambil melepas
gandengannya dan mulai
menggelar tikar yang
dibawanya. Di sebelah kanan
dan kiriku ada pula pasangan
yang sudah terlebih dahulu
menempati kapling mereka. Jadi
aku dan Mbak Narsih termasuk
datang agak terlambat. Setelah
basa-basi sejenak dengan
tetangga kanan-kiri kami pun
rebahan sambil berpelukan
dalam gelap di tempat terbuka
lagi.
Aku yang masih lugu tak tahu
harus berbuat apa. Soalnya
seumur-umur baru kali inilah
aku memeluk seorang wanita
dewasa. Tanganku diam saja
sementara debar jantungku tak
teratur. Mbak Sum yang semula
hanya memeluk, perlahan-lahan
mulai mengelus dadaku salah
satu pahanya ditumpangkannya
di atas pahaku. Kontan saja
batang kemaluanku mengeras..
tapi aku tak berani berbuat
apa-apa. Saat itu kurasakan
kalau tubuh bagian bawah Mbak
Narsih terbungkus sarung,
karena salah satu pahanya
menindih pahaku.
Napasku semakin memburu dan
jantungku berdebar kian keras
saat ia mulai meraba-raba
puting dadaku.
“Dik ikutan masuk sarung aja
biar hangat” bisiknya pelan
seolah takut terdengar
pasangan yang ada di samping
kami.
“Ba.. baik Mbak..” Jawabku juga
pelan.
Lalu dengan hati-hati sekali aku
mulai ikut memasukkan tubuh
bagian bawahku ke sarung
yang dipakai Mbak Narsih. Jadi
sekarang satu sarung berdua..!
Aku sangat terkejut saat tubuh
bagian bawahku masuk ke
dalam sarung. Ternyata Mbak
Narsih tidak memakai selembar
ain pun pada tubuh bagian
bawahnya. Celana panjang yang
tadi dipakainya sekalian celana
dalamnya rupanya sudah
dilepaskannya secara diam-diam
saat mengenakan sarung tadi.
Aku jadi serba salah, mau gerak
tak berani mau diam kok
seperti ini..! Batang kemaluanku
yang dari tadi sudah keras
menjadi semakin keras
memberontak dalam celanaku.
Apalagi tanpa dapat kucegah
tangan Mbak Narsih mulai
meraba-raba batang
kemaluanku dari luar celanaku.
Napasku kian memburu
mendapat perlakuan seperti itu.
“Ayoo.. pegang dada Mbak..
Dik..” bisik Mbak Narsih dengan
napas yang juga sudah mulai
memburu.
Aku dengan terpaksa (karena
gak kuat menahan napsu..)
mulai menggerakkan tanganku
dan meraba-raba dada Mbak
Narsih dari luar gaunnya..
Kurasakan dadanya begitu
sekal dan kenyal.. mungkin
semua wanita begitu kali ya..
Napas kami semakin memburu
tangan kami saling meraba
dalam gelap.. (Mungkin.. ini yang
dimaksud dengan peribahasa
Esedikit bicara banyak bekerjaE
kali ya..? pinter juga tuh orang
yang bikin peribahasa ini.. atau
mungkin dia nemu peribahasa
gini saat lagi begituan kali!)
Napasku seolah terhenti saat
tiba-tiba batang kemaluanku
sudah digenggam Mbak Narsih
dan dielus-elus dengan
lembutnya.. luar biasa.. benar-
benar pengalaman terhebat
yang pernah aku rasakan saat
itu! Tubuhku meliuk-liuk
menahan nikmat yang tiada
tara saat tangan halus Mbak
Narsih mengurut dan meremas
batang kemaluanku.. kedua biji
pelirku pun dielusnya dengan
penuh kasih sayang.. aduh
makk!
“Mbak.. ahkk..” bisikku pelan-
pelan tanpa berani bersuara
keras-keras..
“Masukkan tanganmu Dik..
remas tetek Mbak.. ayoo..” bisik
Mbak Sum yang
menyadarkanku.
Sebenarnya tanpa disuruh pun
aku sudah ingin meraba
langsung bukit menggairahkan
itu. Segera dengan semangat
45 (“ni kan jamannya tujuh-
belas Agustusan) bak pejuang
kita dahulu, aku menyusupkan
tanganku ke dalam kaos
ketatnya dari bagian bawah
dan mulai mencari-cari bukit
kenyal di dada Mbak Narsih.
Tanganku terus meraba dan
bergerak liar di dalam kaus
Mbak Narsih dan terpeganglah
apa yang kudambakan. Kusibak
BH yang masih menempel dan
tanganku bergerak liar di balik
BH itu. Begitu gemas rasanya
aku meremas dan meraba (boso
jowone “Ngowol”) kedua bukit
kembar itu bergantian.
“Och.. ter.. terushh.. Dikk.. ouch..”
Kudengar Mbak Sum berbisik
pelan sekali ditelingaku dengan
napas yang semakin memburu.
“Ayo lepaskan celanamu itu
Dik..” bisiknya lagi.
Dengan hati berdebar keras
membayangkan apa yang akan
terjadi kuturuti permintaan
Mbak Narsih. Kuhentikan
aktivitasku di dada Mbak Narsih
dan melepas celanaku pelan
sekali. Soalnya takut ketahuan
tetangga di sebelahku, yang
sempat kulirik mereka juga
sedang krusak-krusuk sendiri
dalam gelap. Aku tahu itu dari
bunyi kain yang bergeser-
geser. Setelah melepas celanaku
dan menyimpannya di tas Mbak
Narsih aku mulai beraktivitas
lagi.. dan Mbak Narsih juga. Kami
saling meraba lagi. Batang
kemaluanku yang sudah sangat
keras (dalam bahasa Jawanya
Engaceng beratE) diurut dan
diremas dengan lembut oleh
Mbak Sum.. menimbulkan rasa
geli yang luar biasa.. Aku
sempat tak bisa bernapas
merasakan hal ini..
Tanganku pun sekarang mulai
berani bergerak sendiri.
Sasaranku sekarang adalah
bagian bawah Mbak Narsih. Dari
perutnya yang sudah agak
gendut sedikit tanganku
bergeser turun dan
tersentuhlah gumpalan rambut
pekat di selangkangan Mbak
Narsih.
“Terushh.. Dikk.. hhkk, ya.. itt..
itu..” bisik Mbak Narsih sambil
terus menjilat lubang telingaku.
Tanganku terus menyisir celah
celah di tengah rimbunan
rambut itu yang sudah basah
dan panas. Celah itu kurasakan
begitu licin dan basah.. lalu
dengan rasa ingin tahu..
kumasukkan jari ku di tengah-
tengah celah sempit itu. Aku
kaget.. karena tiba-tiba jariku
seolah tersedot dan terdorong
oleh gerakan celah di
selangkangan Mbak Narsih itu.
Dengan naluri alami tanganku
mulai meraba dan mengEobok-
obokE selangkangan Mbak
Narsih yang semakin basah.
(Jadi bukan cuma Yoshua yang
bisa Engobok-obokE aku juga
bisa kok! Hayoo siapa diantara
pembaca (cewek tentunya)
yang mau di Eobok-obokE silakan
kirim e-mail!)
Mbak Narsih semakin
kelimpungan saat jari-jariku
yang nakal mulai memasuki liang
hangat dan basah di
selangkangan Mbak Narsih.
Jariku terus bergerak masuk
ke celah-celah hangat dan licin
itu hingga sampai pangkal..
dengan cepat kuhentak tarik
keluar.. srett.. Mbak Narsih
hampir memekik kalau tidak
buru-buru menggigit leherku
saat kutarik jariku dengan
cepat dari jepitan liang
kemaluannya. Lalu pelan-pelan
kudorong jariku masuk dalam
jepitan kehangatan liang
kemaluan Mbak Narsih, kutarik
lagi cepat dan kodorong pelan-
pelan.. begitu terus kulakukan
berulang ulang hingga akhirnya
Mbak Narsih berkelejat dan
tubuhnya seolah tersentak.
“Ohk.. shh.. akhh” bisik Mbak
Narsih sambil terus menggigit
keras leherku.
Karena kukira Mbak Narsih
merintih kesakitan, spontan
kuhentikan gerakan jariku.
“Terush.. Dikk.. ter.. ouch..”
rintihnya pelan sekali saat
kuhentikan gerakan jariku di
liang hangat diselangkangannya
yang semakin licin oleh lendir
yang keluar dari liang
kemaluannya.
Mendengar permintaannya,
otomatis jariku mulai bergerak
semakin liar di dalam
kehangatan liang kemaluan
Mbak Narsih yang semakin
berlendir dan licin. Tubuhnya
meliuk liuk dan tersentak
berkejat-kejat seiring dengan
gerakanku. Gerakannya semakin
lama-semakin lemah dan
berhenti.. jariku tetap terjepit
kehangatan liang kemaluannya,
lalu kedua tangan Mbak Narsih
memegang kedua pipiku dan
diciumnya bibirku dengan mesra
sekali.
“Kamu pintar Dik..” bisiknya
mesra.
“Mbak rasanya seolah
mengawang tadi”
“Kukira tadi Mbak Narsih
kesakitan.. makanya kuhentikan
gerakanku” bisikku
“Enggak.. Mbak enggak sakit
kok.. justru nikmat sekali..”
bisiknya manja.
“Sekarang biar Mbak yang
gantian memuaskan kamu”
balasnya.
Kemudian dengan pelan, karena
takut ketahuan pasangan di
sebelah (Yang aku yakin juga
sedang melakukan hal yang
sama dengan kami!) Mbak Narsih
mulai menaiki tubuhku.
Dikangkangkannya kakinya dan
dipegangnya batang
kemaluanku yang sudah
ngaceng berat seperti
meriamnya Pak tentara yang
siap menggempur GAM. Lalu
digesek-gesekkannya palkonku
(kepala kontol EpalkonE) di celah
hangat di selangkangannya
yang sudah sangat licin dan
basah.
“Hkk..” napasku seolah terhenti
saat batang kemaluanku mulai
terjepit erat dalam kehangatan
liang kemaluan Mbak Narsih.
Sensasi terhebat dalam hidupku!
Dan barangkali inilah awal
sejarah hilangnya
keperjakaanku! Yang
selanjutnya akan merubah
kehidupanku! (Akan kuceritakan
kelak).
Dengan pelan tetapi pasti.. alon-
alon asal kelakon.. batang
kemaluanku mulai menyeruak
masuk dalam jepitan
kehangatan liang kemaluan
Mbak Narsih. Mataku terbeliak
menahan nikmat yang tiada
tara.. (Mungkin inilah yang
namanya sorga dunia ya?).
“Mbak..” bisikku di telinga Mbak
Narsih, “Geli Mbakk”
“Hushh.. diam saja nikmati saja”
balas Mbak Narsih mesra.
Aku menggigit bibir menahan
nikmat yang tiada tara. Mbak
Narsih terus berkutat di atas
perutku, bergoyang dan
berputar pelan. Hingga akhirnya
seluruh batang kemaluanku
tertelan dalam kehangatan
liang kemaluan Mbak Narsih.
Seluruh batang kemaluanku
masuk sampai ke pangkalnya
sampai kurasakan palkonku
menumbuk sesuatu di dalam
sana. Mbak Narsih pun mungkin
merasakan hal yang sama
denganku, kutahu itu dari
napasnya yang tersengal-
sengal.
Gesekan demi gesekan dari
kedua kemaluan kami
menghangatkan dinginnya
malam di Gn Kmks itu. Kami
sudah tidak peduli lagi dengan
pasangan-pasangan lain di
sekitar kami. Yang kami tahu
adalah bagaimana mereguk
nikmat dan menuntaskan
hasrat yang sudah hampir
mencapai klimaksnya.
Mbak Narsih terus bergerak
pelan. Lama-lama gerakannya
sudah mulai tidak teratur dan
kurasakan Mbak Sum menggigit
leherku lagi. Aku pun hampir
saja berteriak menahan
sesuatu yang hampir meledak
dari dalam diriku. Kurasakan
dorongan semakin kuat
mengehentak bagian bawah
perutku.
Gerakan Mbak Narsih semakin
tidak teratur dan gigitannya
semakin kencang.
“Ouchkk.. Dikk.. Mbak mau kelu..
arrghh” bisiknya sambil
tubuhnya mengejat-ngejat di
atas perutku.
Akupun sepertinya tidak mampu
lagi menahan dorongan yang
menghentak dan akhirnya
tanpa dapat kupertahankan
jebollah sudah pertahananku.
Crrt.. crett.. crett.. crett.. crett..
keluarlah lahar panas dari ujung
palkonku yang membasahi dan
menyiram rahim Mbak Narsih.
Tubuhku seolah melayang dan
terhentak seperti terkena arus
listrik. Kurasakan puncak
sensasi bersetubuh yang ruarr
biasa.. Tanganku mencengkeram
bongkahan pantat Mbak Narsih
yang masih saja bergerak liar
untuk mencoba
menghentikannya. Tetapi
semakin erat kutahan semakin
liar gerakannya hingga aku
pasrah saja dan menikmati
sensasi semampuku.
“Mbak sud.. sudah.. Mbak.. ohh”
bisikku di telinganya.
Rupanya saat aku mencapai
orgasme tadi Mbak Narsih juga
sedang mencapai orgasme
sehingga sulit kuhentikan
gerakannya.
“Kamu hebat Dikk..” bisiknya
mesra sekali.
“Mbak puas sekali..”
Kami masih terus berpelukan
beberapa saat. Mbak Narsih
masih menindihku dan batang
kemaluanku masih erat terjepit
dalam liang kemaluannya. Dan
secara perlahan kurasakan
batang kemaluanku mulai
terdorong keluar akibat
kontraksi liang kemaluannya..lalu
tubuh kami sama-sama
tersentak saat batang
kemaluanku terlepas sendiri
dari jepitan liang kemaluannya.
Kami saling berpandangan
mesra dan tersenyum.. Duh
manisnya Mbak Narsih kalau
tersenyum (Aku membatin andai
saja Mbak Narsih ini jadi istriku
betapa bahagianya aku).
“Mbak aku kok jadi sayang
sekali sama Mbak”.. bisikku
mesra.
“Mbak juga kok Dik..” balasnya.
“Nanti kita pulangnya mampir
dulu istirahat di losmen di depan
stasiun Blp.. mau kan?”
lanjutnya.
“Mau dong.. masa mau menolak
rejeki” jawabku nakal.
“Memang Mas Gun enggak
marah?” tanyaku.
“Enggak kok.. malah dia yang
nyuruh aku untuk ke sini
melakukan ritual.. malahan dia
yang memilihkan pasangannya..
ya Dik Wawan itu” jawabnya
santai.
(Sialan gerutuku dalam hati.
Rupanya aku mau dijadikan
tumbal pesugihannya! Tapi biarin
dah, yang penting nikmatt).
Mulai detik itu aku berjanji
dalam hati akan mengerjai
istrinya habis-habisan atas
keputusannya menjadikanku
sebagai tumbal pesugihannya.
Dan janjiku akan kubuktikan
sebentar lagi.
Pagi sekali, kira-kira jam 04.00
pagi satu per satu pasangan
yang telah menjalani laku gila ini
mulai beranjak pulang. Kami pun
ikut pulang ke tempat kami.
Dinginnya udara pagi tak
kurasakan, karena Mbak Narsih
yang kubonceng memeluk erat
tubuhku sepanjang perjalanan.
Tubuhku jadi hangat apalagi
dada Mbak Narsih yang kenyal
menekan erat punggungku.
Kupacu kendaraanku kencang-
kencang takut kesiangan.
Sementara Mbak Narsih tetap
erat memelukku dan tangannya
tak ketinggalan dimasukkan ke
dalam celanaku dan meremas-
remas batang kemaluanku
sepanjang perjalanan itu.
Mendapat perlakuan itu, tentu
saja adik kecilku bangkit berdiri
dan memberontak seolah
hendak menyeruak keluar dari
sarangnya. Remasan dan
pelukan Mbak Narsih
membuatku melupakan
dinginnya udara pagi dan
lamanya perjalanan dari Gml ke
kota S yang kira-kira sejauh 30
Km itu.
*****
Selang setengah jam kemudian
kami pun sampai ke kota S, dan
kami pun menuju daerah sekitar
stasiun Blp untuk mencari
penginapan yang “Sesuai” (sepi
dan asoy). Setelah berputar-
putar beberapa saat, kami pun
menemukan sebuah losmen
yang cukup bersih dan letaknya
agak tersembunyi. Kami memilih
kamar yang mempunyai kamar
mandi di dalam agar privasi kami
lebih terjaga.
Setelah check in aku langsung
masuk kamar mandi dan mulai
membuka seluruh pakaianku
untuk mandi. Sementara itu
Mbak Narsih langsung tiduran
sambil menonton acara televisi
pagi. Sedang asyik-asyiknya
menyabuni tiba-tiba Mbak
Narsih masuk kamar mandi dan
sudah telanjang bulat tanpa
selembar benangpun yang
menutupi tubuhnya yang indah
itu. Aku terpana dan tanpa
sadar menghentikan
kegiatanku. Mulutku melongo
menyaksikan pemandangan
yang terlalu indah untuk
dilewatkan begitu saja. Ya..
walaupun kami pernah
bersetubuh, tetapi aku belum
pernah melihat seluruh
tubuhnya sejelas ini. Tadi malam
kami bersetubuh dalam gelap
dan itupun kami masih terbalut
pakaian atas kami masing-
masing.
Benar-benar luar biasa
pemandangan yang terpampang
di hadapanku ini. Walaupun
perutnya agak berlemak,
namun keindahan tubuh Mbak
Narsih masih sangat
mempesona. Kulitnya yang khas
wanita Jawa berwarna sawo
matang tampak mulus tanpa
cacat. Rambutnya yang hitam
lurus, sebahu panjangnya
tampak indah tergerai. Dan
payudaranya yang masih cukup
kencang menggantung indah
dengan puting yang mencuat
kecoklatan. Sedikit turun ke
bawah bulu-bulu hitam keriting
memenuhi gundukan bukit kecil
di bawah perutnya. Luar biasa!
Aku sampai melongo dibuatnya.
Apalgi tubuhnya tersorot lampu
neon dari kamar tidur dan dari
kamar mandi sekaligus..
“Lho.. kok mandinya berhenti?”
Tanya Mbak Narsih
mengejutkanku hingga
membuatku gelagapan.
“Eh.. anu.. eh.. Mbak.. kok ma..
masuk kesini Mbak?” tanyaku
gagap dan otomatis tanganku
menutupi batang kemaluanku
yang sudah penuh sabun.
“Kenapa emangnya? Apa
enggak boleh mandi bareng-
bareng?” katanya santai terus
dimintanya sabun yang sedang
kupegang.
“Sini Mbak mandiin biar bersih!”.
Aku pun mandah saja dan
kunikmati elusan tangan Mbak
Narsih yang menyabun seluruh
tubuhku. Digosoknya
punggungku dengan sabun
terus ke bawah hingga
pantatku pun tak lupa digosok-
gosoknya. Aku merem melek
menikmati remasan tangan
Mbak Narsih di kedua belahan
buah pantatku.
“Hayo.. sekarang depannya..”
tiba-tiba Mbak Narsih
menyuruhku untuk
menghadapinya.
Tangannya mengusap leherku
terus ke bawah dan beberapa
saat memainkan jarinya di
kedua tetekku bergantian. Aku
menahan napas ketika
tangannya terus merayap ke
bawah dan mulai menyabuni
selangkanganku. Diremasnya
batang kemaluanku dengan
lembut. Kontan adik kecilku
terbangun dan mengeras
seketika.
“Lho.. kok terus kencang?”
gurau Mbak Narsih demi melihat
batang kemaluanku berdiri
tegak bak petarung yang siap
laga. Aku jadi jengah dan sedikit
malu.
“Iya soalnya dia tahu ada lawan
mendekat” balasku untuk
menghilangkan kekakuan.
“Dia tahu sebentar lagi mau
disuruh kerja.. he.. he.. he!”
gurauku.
“Ah maunya..!” Mbak Narsih
memonyongkan bibirnya.
Aku yang sudah sangat
terangsang dengan elusan dan
remasan tangannya di
selangkanganku langsung saja
memeluknya dan tanpa ba Bi Bu
lagi kusergap bibirnya yangs
sedang monyong itu. Kupeluk
tubuh telanjangnya dan dengan
ganas kucium bibirnya.
“Mphhf..” Mbak Narsih
gelagapan saat bibirnya
kuserobot dan tanganku erat
memeluknya.
Sambil terus menciumnya
tanganku dengan beraninya
berkeliaran mengelus punggung
Mbak Narsih dan terus ke
bawah ke arah bongkahan
pantatnya yang padat. Kuremas
kedua belah buah pantatnya
bergantian.
“Dikk.. ohh” Mbak Narsih Cuma
bisa melenguh dan
menggelinjang dalam dekapanku.
Tangannya semakin liar
mengurut dan meremas batang
kemaluanku. Aku sendiri tidak
perduli kalau tubuhku masih
penuh dengan busa sabun dan
bau keringat Mbak Narsih yang
belum mandi sejak kami
bersetubuh semalam.
“Dik.. Mbak.. Mbak be.. belum
mandi..” napas Mbak Narsih
tersengal-sengal saat dengan
ganasnya kuciumi lehernya.
“Biar Mbak mandi dulu.. ughh”
Mbak Narsih melenguh minta
kulepaskan.
Mungkin ia risih dengan bau
keringatnya sendiri. Lalu
kulepaskan pelukanku. Kusiram
tubuh Mbak Narsih dengan air
dingin.
“Sini Mbak biar gantian ku
mandiin” kuraih sabun yang
dipegangnya.
Lalu balik tubuh Mbak Narsih
dan kusabun punggungya.
Kugosok bagian punggungnya
dan tanganku yang nakal
bergeser terus ke bawah.
Begitu tanganku menyentuh
bagian pantatnya yang padat
tanganku mulai meremas
dengan gemas. Kuelus dan
kugosok ke dua belah
bongkahan pantat Mbak Narsih.
Setelah puas bermain-main
dengan pantatnya, tanganku
mulai menyabun tubuh Mbak
Narsih bagian depan. Namun
saat itu posisiku masih
dibelakang Mbak Narsih, jadi
tanganku menggosok bagian
depannya sambil memeluknya
dari belakang. Saking ketatnya
pelukanku, tubuh bagian bawah
kami saling menempel ketat.
Batang kemaluanku yang sudah
sangat keras tergencet antara
bongkahan pantat Mbak Narsih
dengan perutku sendiri.
(Pembaca bisa bayangin gimana
rasannya). Luar biasa! Apalagi
pantat Mbak Narsih dan batang
kemaluanku sangat licin karena
penuh busa sabun. Rasanya
syurr.. apalagi Mbak Narsih
sengaja menggoyang-
goyangkan pantatnya hingga
batang kemaluanku tergesek-
gesek. Nikmatt!
Kedua tangan Mbak Narsih
diangkat ke atas kepalanya
seolah-olah membiarkanku
untuk semakin mudah
menggosok kedua payudaranya
dari belakang. Sementara
pantatnya yang menggencet
batang kemaluanku sebentar-
sebentar digoyang. Aku semakin
terangsang hebat dengan
perlakuannya itu. Lalu tanganku
kugeser ke arah
selangkangannya. Kugosok
gundukan bukit kecil di
selangkangan Mbak Narsih yang
lebat dengan rambut. Kusabun
dan gundukan bukit itu dengan
arah dari atas ke bawah
mengikuti alur celah hangat di
selangkangan Mbak Narsih.
“Ouchh.. ter.. rushh Diikk”
sekarang Mbak Narsih sudah
berani bersuara agak keras
karena kami hanya berdua.
Tidak seperti keadaan semalam
dimana kami hanya bisa
berbisik-bisik takut ketahuan
pasangan lain. Aku semakin
semangat bermain-main dengan
bukit kecil di selangkangannya.
Tanganku yang jahil sekali-
sekali menusuk masuk ke celah
hangat diselangkangannya. Hal
ini membuat Mbak Narsih
semakin liar menggerakkan
pantatnya. Akibatnya aku
sendiri yang melenguh
kenikmatan karena batang
kemaluanku tergencet
pantatnya yang licin.
“Akhh.. terr.. ushh..” Mbak
Narsih semakin liar menggumam
tak karuan saat kukorek-korek
liang kemaluannya dengan
jariku.
Kumainkan jariku di dalam liang
kemaluan Mbak Narsih. Dan
Mbak Narsih semakin meronta
dan menggelinjang saat jariku
memainkan dan menggosok
tonjolan daging kecil dalam liang
kemaluannya. Kepalanya
mendongak ke atas dan
mulutnya setengah terbuka
menahan nikmat. Kugosok terus
dan sesekali kutarik tonjolan
daging itu.
“Terush.. Dikk.. ohh.. ter..
ruushh” Mbak Narsih terus
menceracau. Dan dengan
diakhiri lenguhan panjang tiba-
tiba tubuhnya mengejang..,
kepalanya terhentak dan
tubuhnya meliuk. Mungkin dia
mencapai orgasme saat
kumainkan tonjolan daging di
selangkangannya.
Kemudian setelah beberapa
saat ia terdiam dan matanya
terpejam seolah menikmati
sensasi yang baru saja
dirasakannya. Setelah napasnya
mulai teratur diraihnya gayung
dan disiraminya tubuhnya dan
tubuhku dengan air. Sambil
menyirami sisa busa sabun di
tubuhku tangannya mengelus
dan mengurut batang
kemaluanku yang sudah sangat
kencang (Ngaceng habis-
habisan!).
“Dik.. kamu tiduran saja di lantai
biar Mbak yang service
sekarang” disuruhnya aku
berbaring di lantai kamar mandi.
Aku pun menurut saja apa
maunya. Kubaringkan tubuhku
di lantai kamar mandi yang
dingin, aku saat itu berbaring
sambil berdiri pembaca!
Bayangkan berbaring sambil
berdiri! Aku memang berbaring..
tapi adik kecilku berdiri tegak
menunjuk langit-langit kamar
mandi!
Setelah aku berbaring, Mbak
Narsih merangkak di atas
tubuhku. “a duduk di atas
perutku dan mulai mencium
keningku. Aku memejamkan
mata merasakan sensasi luar
biasa. Antara napsu dan sayang.
Napsu soalnya selangkangan
Mbak Narsih yang hangat
menempel ketat di atas
perutku dan batang
kemaluanku menempel
pantatnya. Sayang karena aku
seolah-olah sedang dimanja. Ya
aku sedang dimanja karena aku
tidak diperbolehkan bergerak
dan disuruh menikmati layanan
total yang hendak diberikannya
padaku. Dari keningku perlahan
bibirnya bergerak turun dan
mulai menjilati telingaku kanan
dan kiri bergantian. Rasa geli
yang luar biasa menerpaku saat
lidah Mbak Narsih menyapu-
nyapu lubang telingaku.
“Akhh.. Mbaak..” bisikku mesra.
Tubuhnya terus bergeser ke
bawah saat bibir Mbak Narsih
beranjak turun ke bibirku. Kami
saling memagut dan dorong
mendorong lidah. Aku yang
belum berpengalaman ikut saja
permainan yang diberikan Mbak
Narsih. Lidahnya menyapu-
nyapu lidahku dan kusedot
kencang-kencang lidah Mbak
Narsih. Akibatnya tubuh bagian
bawahnya yang sekarang
menindih batang kemaluanku
semakin ketat menekanku. Rasa
hangat menjalar dari batang
kemaluanku yang terjepit
gundukan bukit di selangkangan
Mbak Narsih yang kurasakan
makin licin.gambar artis telanjang
Sementara bibir kami saling
berpagutan, kemaluan Mbak
Narsih yang menjepit
kemaluanku digesek-geseknya
dengan pelan. Kembali lagi
kurasakan sensasi luar biasa.
Betapa tidak.. walaupun batang
kemaluanku belum memasuki
lobang yang semestinya namun
karena bibir kemaluan Mbak
Narsih sudah sangat licin jadi
kemaluanku yang terjepit di
antara bibir kemaluannya dan
perutku sendiri seperti diurut.
Batang kemaluanku mulai
berdenyut-denyut. Gerakanku
sudah mulai liar tak terkendali.
Namun permainan belum
berakhir! The game was just
begun! Permainan baru dimulai!
Bibir Mbak Narsih terus menjilat
seluruh tubuhku. Leherku sudah
basah oleh liur Mbak Narsih. Dari
leher bibirnya terus merangsek
ke bawah, kedua puting dadaku
pun habis dipermainkan
lidahnya. Dari sini bibirnya terus
ke bawah hingga pusarku pun
dijilatinya habis-habisan. Lagi-
lagi sensasi luar biasa
menyerbuku saat lidah Mbak
Narsih mengais-ngais pusarku
sementara ke dua payudaranya
menempel ketat di batang
kemaluanku.! Edann..! Kali ini
batang kemaluanku terjepit di
tengah-tengah belahan
payudaranya yang kenyal!
Sensasi nikmat semakin
meningkat saat tanpa dapat
kucegah bibir Mbak Narsih mulai
menciumi batang kemaluanku
dari ujung hingga pangkalnya.
Gilaa!
“Upff.. Mbaak..” aku setengah
memekik saat ujung kemaluanku
serasa terjepit benda hangat!
Ternyata batang kemaluanku
sedang dikulum Mbak Narsih! Dia
mengulum batang kemaluanku
seperti anak kecil yang sedang
menjilati EmagnumE es krim yang
terkenal itu! Sambil dikocok
batang kemaluanku dihisapnya
habis-habisan! Tidak puas
menjilat batang kemaluanku,
Mbak Narsih mulai menjilat
kantung pelerku (gaber). Ya
gaberku! (Gaber adalah bahasa
Banyumas untuk kantong peler
– bukan pamannya Donal
Bebek). Dikuakkannya lipatan
gaberku dan dijilatinya inci demi
inci gaberku itu!
Batang kemaluanku semakin
berdenyut kencang. Kocokan
tangan Mbak Narsih pada
batang kemaluanku semakin
kencang. Sekali lagi batang
kemaluanku jadi bulan-bulanan
mulut Mbak Narsih. Dikulumnya
lagi batang kemaluanku yang
semakin berdenyut hingga
hampir seluruhnya masuk ke
dalam mulutnya. Mataku
semakin membeliak menahan
sesuatu yang mendesak dari
perut bagian bawahku. Aku
mencoba bertahan dengan
mencoba memegang kepala
Mbak Narsih agar diam! Namun
semaki kencang aku memegang
kepalanya, semakin kencang
pula kepalanya bergoyang
hingga batang kemaluanku
dikocok-kocok dengan
mulutnya.
“Aarghh..” aku melenguh
kencang saat aku tak mampu
lagi menahan desakan lahar
yang menyembur keluar dari
ujung kemaluanku!
Crat.. cret.. cret.. crett.. crett
hampir lima kali aku
menyemburkan air maniku
untuk yang kedua kalinya hari
ini! Namun kali ini aku
mengeluarkannya di mulut Mbak
Narsih! Tubuhku bergetar dan
mengejat-ngejat. Semakin ketat
kutekan kepala Mbak Narsih
agar batang kemaluanku
semakin dalam terbenam dalam
mulutnya! Akibatnya hampir
semua air maniku tertelan
olehnya!
“Bagaimana Dik Wawan?” Tanya
Mbak Narsih menggodaku,
“Enak?”
“Uf.. luar biasa Mbak” jawabku
agak malu dan penuh rasa
bersalah karena aku
mengeluarkan air maniku di
mulutnya.
“Sorry ya Mbak aku.. aku.. kel..
keluar di mulut Mbak..”
“Enggak apa apa Dik..” kata
Mbak Narsih yang mencoba
menenangkanku.
“Malah Mbak senang bisa buat
jamu.. hik.. hik.. hik”.
“Ayo sekarang istirahat dulu..”
ajaknya sambil menarikku agar
bangkit.
Setelah membersihkan diri dan
mengeringkan tubuh kami,
kamipun berbaring di tempat
tidur sambil menonton TV berita
pagi. Kami masih sama-sama
telanjang bulat dan berpelukan
di tempat tidur.
Mungkin karena terlalu
mengantuk dan capai setelah
semalaman tidak tidur ditambah
ejakulasi dua kali membuatku
langsung terlelap. Aku tidak
tahu telah berapa lama tertidur
sambil memeluk tubuh telanjang
Mbak Narsih. Aku tersadar saat
tubuh bagian bawahku terasa
geli.. perlahan kubuka mataku
dan kulihat Mbak Narsih sedang
menciumi tubuh bagian
bawahku. Aku diam saja pura-
pura tertidur.. padahal si kecil
sudah bangun sedari tadi.
Batang kemaluanku berdenyut-
denyut saat seluruh batang
kemaluanku masuk dalam
kuluman mulut Mbak Narsih
yang hangat dan bergelora.
Lidahnya yang kasar dan panas
menyapu-nyapu ujung
kemaluanku yang membuatku
tak sadar menggelinjang hingga
Mbak Narsih tahu kalau aku
hanya pura-pura masih tidur!
“Rupanya kamu nakal ya!”
katanya sambil memencet
batang kemaluanku yang sudah
sangat keras itu.
“Awas kamu”, ujarnya lagi.
“Adaoww” jeritku manja.
Rasanya sakit tapi enak juga
dipencet oleh tangan Mbak
Narsih yang halus itu! Pembaca
gak percaya? (Boleh dicoba
ntar kuminta Mbak Narsihku
memencet pembaca yang
penasaran! Ha.. ha.. ha).
Aku semakin menggelinjang
kegelian campur sedikit ngilu
saat mulut Mbak Narsih
menyedot buah pelerku
kencang-kencang. Geli tapi
ngilu.. ngilu tapi geli.. pembaca
bisa bayangin gimana rasanya..
pokoknya campur aduk deh..
sulit digambarkan dengan kata-
kata..
Tiba-tiba Mbak Narsih
membalikkan posisinya..
mulutnya masih sibuk melumat
batang kemaluanku tetapi
sekarang tubuh bagian
bawahnya digeser ke atas
sehingga gundukan bukit di
bawah perutnya yang lebat
ditumbuhi bulu hitam sekarang
tepat berada di hadapan
wajahku. Kedua kakinya
mengangkangi wajahku
sehingga jelas kulihat belahan
merah jambu segar di tengah-
tengah gundukan itu. Ada bau
khas semacam bau cumi-cumi
segar menyeruak lubang
hidungku.. oo.. rupanya seperti
inikah bau kemaluan wanita..
seperti bau cumi-cumi.. orang
Korea bilang katanya bau Ojingo
atau bahasa kitanya cumi-cumi!
Segar dan sedikit amis.. gitu!
Aku yang baru kali ini melihat
dari dekat bentuk kemaluan
wanita dewasa menjadi
terpesona melihat
pemandangan seperti itu.
Mengetahui aku diam saja Mbak
Narsih yang tadinya asyik
menjilati batang kemaluanku
berhenti melakukan aksinya lalu
diturunkannya pantatnya
pelan-pelan sehingga lubang
kemaluannya menekan hidung
dan mulutku. Aku yang sedang
melongo jadi gelagapan karena
tiba-tiba kejatuhan memek! Pas
dimulut dan hidungku lagi!
(Pembaca pernah enggak
kejatuhan memek? Kalau belum
bisa dicoba suruh aja cewek
pembaca ngangkang di atas dan
melakukan aksi seperti itu! Pasti
ditanggung kaget tapi nikmat!
Ha.. ha.. ha!)
Begitu liang kemaluan Mbak
Narsih yang sudah basah dan
panas menekan mulutku
otomatis tanpa disuruh bibirku
melahap seluruh cairan yang
membasahi liang kemaluan Mbak
Narsih.. rasanya.. sedikit agak
asin.. Lidahku menyeruak masuk
ke dalam liang kemaluan Mbak
Narsih hingga kepala Mbak
Narsih terdongak dan
pantatnya semakin menekan
wajahku.
“Shh.. terusshh Diikk.. ohh”
Lidahku terus menerobos liang
kemaluannya dan masuk
sedalam-dalamnya.
Aku semakin gelagapan susah
bernapas karena kemaluan
Mbak Narsih begitu ketat
menekan mulut dan hidungku.
Tekanan pantatnya semakin
ketat saat tubuhnya meliuk-liuk
dan berkejat-kejat saat
kusedot tonjolan daging di sela-
sela liang kemaluannya. Mbak
Narsih menjerit dan semakin
kuat menekankan pantatnya
hingga hidung dan mulutku
seolah amblas ditelan
bongkahan liang kemaluannya
yang menindihku.
“Upf.. brr..! Karena tak tahan
susah bernapas kusembur
kencang-kencang liang
kemaluannya hingga
menimbulkan bunyi aneh seberti
kain robek. Brrtt..!
“Ihh..” Mbak Narsih menjerit
kaget atas kenakalanku itu.
“Awas ya.. entar Mbak balas
kamu..” jeritnya manja.
“Abis.. aku enggak bisa
bernapas.. Mbak juga sih..”
balasku tak kalah manja sambil
meremas-remas bongkahan
pantatnya yang sekal dengan
gemas.
Mbak Narsih pun membalas
aksiku tadi. Kini disedotnya
kuat-kuat lubang saluran
kencingku.. aku sempat
mengawang merasakan
kenikmatan yang tiada tara ini.
Aku pun balas lagi kutekan
pantatnya dan kudekatkan
bibir kemaluannya ke mulutku
dan mulai mlumat bibir
kemaluannya dengan gemas.
Kembali Mbak Narsih
menggelinjang dan akhirnya tak
tahan sendiri.
“Oh.. su.. sudah diikk..!” desisnya,
“Mbak sudah enggak kuat..”
Lantas ia mengubah posisinya.
Sekarang kami berhadap-
hadapan dan Mbak Narsih masih
di atas tubuhku. Dengan
tanggannya batang kemaluanku
dicocokkannya ke liang
kemaluannya yang sudah
sangat licin. Setelah tepat
kemudian ditekannya pantatnya
pelan pelan hingga batang
kemaluanku mulai menyeruak
kehangatan liang kemaluannya.
Aku menggigit bibirku agar
tidak melenguh. Hingga bless..
hampir seluruh batang
kemaluanku terbenam dalam
kehangatan liang kemaluan
Mbak Narsih. Mbak Narsih
menghentikan gerakannya dan
kami menikmati keindahan saat-
saat menyatunya tubuh kami.
Kami saling bertatap pandang
dan tersenyum mesra. Oh..
alangkah mesranya.
“Aku sayang kamu Dikk..” bisik
Mbak Narsih di telingaku dengan
mesra.
“Aku juga Mbak..” balasku tak
kalah mesra.
Kemudian bibir kami saling
berpagutan. Lidah kami saling
bertaut.
Dengan pelan Mbak Narsih mulai
menggoyangkan pantatnya naik
turun di atas tubuhku. Batang
kemaluanku semakin kencang
tergesek-gesek dalam jepitan
liang kemaluannya. Tanganku
tak tinggal diam. Kuremas buah
pantat Mbak Narsih dengan
gemas. Semakin lama semakin
cepat Mbak Narsih
menggoyangkan pantatnya di
atas tubuhku. Mulutnya tak
henti-hentinya mendesis dan
merintih. Aku pun mengimbangi
gerakannya dengan memutar
pinggulku menuruti instingku.
Mbak Narsih semakin liar
menggoyangkan pantatnya dan
mulutnya semakin kencang
merintih.
“Ouch.. terushh.. Diikk..”
mulutnya terus merintih.
“Mbak mau kell.. oohh..” belum
habis ia bicara ternyata Mbak
Narsih sudah sampai ke puncak
pendakiannya.
Tubuhnya meliuk dan berkejat-
kejat bak terkena aliran listrik
yang dahsyat. Aku pun semakin
kencang memutar pantatku
mengimbangi gerakannya dan
terdorong keinginan untuk
memuaskan hasrat wanita yang
kusayangi ini.
“Kamu.. hebb. bathh..” bisik
Mbak Narsih mesra.
Beberapa kali ia menggelepar di
atas tubuhku dan akhirnya
tubuhnya ambruk di atas
perutku. “a terdiam beberapa
saat. Kubiarkan Mbak Narsih
untuk menikmati keindahan
yang baru diperolehnya. Aku
yang sudah dua kali
mengeluarlan air mani selama
satu malam itu merasa belum
apa apa.
Setelah napasnya mulai teratur
kubisikkan agar Mbak Narsih
mengubah posisi. Sekarang
kuminta Mbak Narsih tengkurap
di ranjang dan kujulurkan
kedua kakinya ke lantai hingga
pantatnya yang indah
menungging di tepi tempat
tidur. Perutnya kuganjal dengan
bantal hingga posisi
menunggingnya agak tinggi.
“ndah sekali pemandangan yang
terpampang di hadapanku.
Betapa tubuh telanjang Mbak
Narsih dengan pantatnya yang
indah tengkurap dengan posisi
menungging. Kunikmati
pemandangan ini beberapa saat
hingga Mbak Narsih mengomel
manja.
“Ayo.. tunggu apa lagi” dia
mengomel dengan manja.
Aku pun menempatkan posisiku
tepat di belakangnya. Dengan
berdiri kucocokkan batang
kemaluanku ke liang
kemaluannya dari arah
belakang. Kugesek-gesek liang
kemaluannya dengan kepala
batang kemaluanku agar licin.
Setelah licin, dengan pelan
kutekan batang kemaluanku
hingga menyeruak liang
kemaluan Mbak Narsih.
Beberapa kali kukocok batang
kemaluanku sebelum
kubenamkan seluruhnya.
Mbak Narsih mulai mendesis dan
dengan pelan mulai
menggoyangkan pantatnya
mengimbangi gerakanku.
Setelah beberapa kali kocokan
dengan sekuatnya kutekan
pantatku hingga seluruh batang
kemaluanku amblas ke dalam
liang kemaluan Mbak Narsih.
Kepala Mbak Narsih terdongak
saat tulang kemaluanku beradu
dengan pantatnya. Plok.. plok..
plok terdengar bunyi
beradunya tulang kemaluanku
dengan pantatnya hingga
menimbulkan gairah tersendiri
bagiku. Apalagi mulut Mbak
Narsih kembali mendesis dan
merintih saat batang
kemaluanku mengocok liang
kemaluannya. Aku semakin
bersemangat memacu dan
mengayunkan batang
kemaluanku dalam jepitan liang
kemaluannya.
Mbak Narsih semakin liar
menggoyangkan pantatnya
membuat mataku terbeliak
menahan nikmat. Karena
dengan gerakannya itu batang
kemaluanku seolah-olah
diremas-remas dan dipelintir.
Kutekan pantat Mbak Narsih
agar tidak terlalu kencang
berputar. Aku bisa menahan
napas lega begitu aku dapat
mengontrol diriku agar tidak
terbawa permainan Mbak
Narsih. Aku ingin berlama-lama
merendam batang kemaluanku
dalam jepitan kehangatan liang
kemaluannya. Aku tidak ingin
cepat-cepat selesai.
“Ayoo.. kok pelan..” protes Mbak
Narsih begitu aku
memperlambat tempo.
Pantatnya semakin kencang.
Kembali ia memutar pantatnya
semakin lama semakin cepat
hingga aku kembali merasakan
desakan yang sangat dahsyat
menekan dari perut bagian
bawahku. Aku harus berusaha
keras menahan desakan yang
menggelegak dan kembali
kutekan pantat Mbak Narsih
agar tidak terlalu cepat
berputar.
Batang kemaluanku yang
terjepit dalam kehangatan liang
kemaluannya seolah-olah
terpelintir dan terjepit kian
erat. Ujung kemaluanku terasa
berdenyut-denyut seperti mau
meledak. Semakin lama
denyutan di ujung batang
kemaluanku semakin kuat.
Apalagi pantat Mbak Narsih
bukan hanya berputar, tetapi
sesekali diselingi dengan
gerakan maju mundur mengikuti
ayunan pantatku. Rasanya aku
sudah tidak kuat lagi untuk
mengeluarkan air maniku.
“Akhh.. Mbaak.. aku.. aku.. ma..”
napasku kian tersengal hampir
tak kuat lagi menahan gejolak.
Mbak Narsih semakin liar
memutar pantatnya.
Payudaranya berguncang-
guncang seiring dengan
gerakan tubuhnya yang liar.
Suara beradunya pantat Mbak
Narsih dengan tulang
kemaluanku semakin keras
bercampur dengan deru
dengusan napas dan rintihan
kami.
Aku semakin cepat
mengayunkan pantatku maju
mundur disambut dengan
gerakan meliuk dan maju
mundur pantat Mbak Narsih.
Gerakanku semakin tak teratur
saat desakan yang sudah tak
mampu lagi ku bendung
meledak. Ujung batang
kemaluanku berdenyut kian
kencang dalam jepitan liang
kemaluan Mbak Narsih.
“Arghh..” aku melenguh kuat.
Mataku terbeliak dan tubuhku
tersentak seperti terkena
aliran listrik. Kucengkeram buah
pantat Mbak Narsih dan
kutekan dengan kuat hingga
batang kemaluanku semakin
dalam menghunjam ke dalam
liang kemaluannya. Crat..! crat..
crat.. crat.. cratt.. Hampir lima
kali kusemburkan air maniku
kedalam rahim Mbak Narsih.
“Ouch.. shh..” Mbak Narsih pun
rupanya mengalami orgasme
pada saat yang bersamaan
denganku.
Tubuhnya meliuk dan ikut
berkelejat dan beberapa saat
kemudian tubuh kami ambruk.
Batang kemaluanku masih
terjepit erat dalam liang
kemaluan Mbak Narsih.
Kubiarkan saja batang
kemaluanku di sana. Aku
rasanya sudah tak punya
tenaga untuk menariknya.
Kutindih tubuh telanjang Mbak
Narsih yang masih nungging di
atas tempat tidur empuk itu.
Kami sama-sama mengatur
napas setelah berpacu dalam
nikmat (Mirip acarany Mas Koes
Hendratmo aja Cuma dia
bikinnya EBerpacu dalam MelodyE
Ha.. ha.. ha!)
Kami sama-sama terdiam.
Kupeluk tubuh Mbak Narsih.
Tubuh kami sama-sama basah
dengan keringat. Aku masih
sempat merasakan liang
kemaluan Mbak Narsih
berdenyut-denyut menjepit
batang kemaluanku yang
sengaja tidak kulepas.
Perlahan-lahan batang
kemaluanku mulai terdorong
keluar oleh denyutan liang
kemaluan Mbak Narsih.
Plop.. akhirnya batang
kemaluanku terlepas dari
jepitan liang kemaluan Mbak
Narsih dengan sendirinya.
Kugigit ujung telinga Mbak
Narsih sebagai ungkapan rasa
sayangku. Kami bertatapan dan
saling tersenyum mesra.
“Kamu cepat pintar.. sayang”
bisik Mbak Narsih mesra.
“Siapa dulu dong
instrukturnya..” balasku sambil
mencium bibirnya.
Kembali bibir kami saling
bertautan. Batang kemaluanku
yang baru saja EterlemparE
keluar dari liang kemaluan Mbak
Narsih mulai berlagak lagi.
Perlahan namun pasti ia mulai
mengeras. Gila! Baru berdekatan
aja sudah bertingkah. Mungkin
capai dengan posisi nungging,
Mbak Narsih pun menggulingkan
tubuhnya dan kini kami saling
menindih dengan posisi saling
berhadapan lagi. Bibir kami
masih tetap saling melumat dan
lidah kami pun saling dorong
mendorong.Cerita Dewasa
Batang kemaluanku yang sudah
keras kembali menempel ketat
pada gundukan di selangkangan
Mbak Narsih yang hangat dan
mulai basah lagi. Tanganku pun
tak mau diam. Kedua payudara
Mbak Narsih yang sekal menjadi
bulan-bulanan tanganku yang
sibik remas sana remas sini,
raba sana raba sini..
Mendapat perlakuanku yang
agak kasar, tubuh Mbak Narsih
menggelinjang di bawah tindihan
tubuhku. Napasnya mulai
memburu. Lalu tangannya
mencari-cari dan akhirnya
terpeganglah batang
kemaluanku yang sudah
sempurna dan siap tempur.
Dibimbingnya batang
kemaluanku ke celah-celah di
selangkangannya dan digesek-
gesekannya di celah hangat dan
sempit itu. Setelah licin tiba-tiba
kedua tangan Mbak Narsih
memegang pantatku dan
ditariknya hingga batang
kemaluanku kembali
menghunjam liang kemaluannya
dan bersarang di sana.
Kembali kami mengulang
persetubuhan kami. Entah
berapa babak kami bertempur
hari itu. Kami baru pulang ke
rumah kami masing-masing
setelah waktu check out habis,
antar jam 1 atau jam 2 siang
itu. Kami pun berjanji akan
meneruskan ritual di Gn Kmks
malam JumEat berikutnya.
*****
Sampai disini dulu kisahku. Kelak
akan kuceritakan pengalaman
lain dengan Mbak Narsihku.
Untuk itu mohon pembaca
sedikit bersabar..

Author: 

Related Posts

Comments are closed.